Sunday, March 25, 2018

Walau Hamil FDS Tetap Ceria


24 Maret 2018, Hamil bukan suatu halangan untuk beraktifitas. Itulah saat ini yang sedang dialami oleh salah satu pendamping dari Kec. Bantarbolang bernama Nasikhatul Karimah. Dengan kondisi hamil 8 bulan pendamping ini masih tetap energik, tidak pantang menyerah apalagi berkeluh kesah justru tugas dan kewajiban diselesaikannya dengan mudah. FDS salah satu aktifitas yang cukup melelahkan, ada banyak hal yang harus dikuasai oleh para pendamping, selain menguasai materi juga dituntut harus energik, bisa menginspirasi, mencairkan suasana, dan memiliki banyak kreatifitas. 

Saat ini materi yang disampaikan adalah Modul 1 (Pengasuhan dan pendidikan anak), ini adalah materi awal yang disampaikan kepada KPM baru tahun 2018 yang telah lolos verifikasi dan dinyatakan menjadi peserta PKH. Modul ini mengajarkan para KPM bagaimana mengasuh anak yang baik dan memberikan pendidikan yang layak bagi anak. 

Dari para KPM inilah implementasi yang sebenarnya terjadi, saat mereka menerima materi demi materi yang secara bertahap disampaikan oleh para pendamping dan kemudian mempraktekannya dengan baik dirumah maka tujuan hidup dapat tercapai sesuai dengan keinginannya. Oleh sebab itu peran serta dari seorang pendamping sangatlah berpengaruh besar untuk mencapai KPM yang maju dan mandiri. Oke, demikianlah sekilas cerita singkat dari salah satu pendamping PKH kec. Bantarbolang. Semoga bermanfaat.
Read more

Fungsi dan Tugas Supervisor Pendamping


Tahun 2017 Kementerian Sosial melakukan rekrutmen SDM PKH, ada beberapa jabatan baru yang harus diisi salah satunya adalah tenaga Supervisor Pendamping. Dari hasil seleksi yang sudah dilakukan, tenaga Supervisor diambil dari petugas pendamping sosial PKH, karena notabennya mereka sudah tau tugas dan beban pekerjaan yang biasa dilakukan oleh seorang pendamping. 

Fungsi dan tugas dari seorang Supervisor adalah melakukan pengawasan, kontrol, pelaporan, atau melakukan supervisi dari seorang pendamping, apakah pendamping menjalankan tugas dan fungsinya sebagai seorang pendamping atau tidak, salah satu contohnya melakukan pertemuan kelompok yang diisi dengan materi-materi Family Development Session (FDS). 

Materi FDS adalah terobosan baru yang dilakukan oleh Kemensos dalam rangka pembinaan bagi para peserta penerima manfaat, selain itu juga sebagai bahan materi yang disampaikan oleh para pendamping saat melakukan pertemuan kelompo, FDS sangat berguna dan bermanfaat bagi masyarakat khususnya bagi para keluarga penerima manfaat (KPM), kenapa? karena banyak hal yang bisa dipelajari dengan maksud dan tujuan supaya KPM menjadi keluarga yang mandiri dan maju dari segi ekonomi, pendidikan, maupun kesehatannya.

Sebelum melakukan FDS para pendamping ini juga sudah mengikuti pendidikan dan pelatihan selama 17 hari di masing-masing regional yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia, harapannya agar para pendamping siap dalam menyampaikan materi kepada para penerima manfaat.

Nah, itulah diatas secara umum tugas dari supervisor pendamping, semoaga bermanfaat.
Read more

Wednesday, January 31, 2018

Implementasi FDS PKH Sesi 1

Memiliki anak yang sesuai dengan harapan orang tua tentulah menjadi kebanggaan tersendiri. Peran serta orang tua dalam mengasuh anak untuk menjadi anak yang hebat sangatlah besar. Tanpa pengasuhan atau pendampingan yang baik dari orang tua tidaklah hal tersebut dapat terwujud. Untuk itu Kemensos melalui pendamping PKH melakukan pendampingan kepada para peserta penerima manfaat untuk dilatih FDS.
Family Development Session yang akrab disingkat FDS mengajarkan tips menjadi orang tua yang lebih baik dalam pelatihan sesi I modul “Pengasuhan dan Pendidikan Anak Panduan Teknis Pelaksanaan Pelatihan”. Untuk melaksanakan FDS dalam kegiatan Pertemuan Peningkatan Kapasitas Keluarga (P2K2) yang dilaksanakan setiap satu bulan sekali, pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) dibekali buku pintar “Mengasuh Anak di Rumah” dan modul “Pengasuhan dan Pendidikan Anak Panduan Teknis Pelaksanaan Pelatihan” yang penyusunannya dipimpin oleh Luisa Fernandez dari Proverty Reduction and Economic Management (PREM). Modul ini adalah hasil kompilasi berbagai penelitian yang ada serta observasi selama proses kunjungan lapangan dan uji coba di lapangan untuk kegiatan P2K2 dari Program Keluarga Harapan yang diimplementasikan oleh Kementerian Sosial Republik Indonesia. P2K2 adalah sebuah inisiatif yang disusun bersama oleh Kementerian Sosial, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K), Bank Dunia, dan Unicef. Bahkan Pemerintah Australia pun ikut memberikan dukungan bagi penyusunan publikasi modul “Pengasuhan dan Pendidikan Anak Panduan Teknis Pelaksanaan Pelatihan”.

Pelatihan menjadi orang tua yang lebih baik dikemas dengan sangat interaktif, komunikatif, dan disertai contoh berupa film yang mengedukasi cara menangani permasalahan orang tua di rumah sekaligus memberikan solusi dari setiap permasalahan yang ada. Pada pelatihan sesi I dibagi menjadi 8 langkah dengan uraian sebagai berikut:

Langkah pertama yang diajarkan disini adalah menyamakan pikiran bahwa dengan menjadi orang tua yang lebih baik akan membesarkan anak yang hebat.
Langkah ke 2 adalah mengajak peserta PKH untuk berpendapat mengenai hal yang membahagiakan sebagai orang tua dan hal yang menyulitkan sebagai orang tua yang pada akhirnya peserta PKH akan digiring pada pemikiran bahwa untuk menjadi orang tua yang lebih baik adalah dengan mengingat hal yang membahagiakan sebagai orang tua, karena dapat memperkuat kasih sayang orang tua pada anak. Tidak hanya itu pada langkah ke 2 peserta PKH diajak bermain terbalik dengan bernyanyi sambil memegang kepala, pundak, lutut, kaki, lutut dipimpin oleh pendamping PKH. Kesimpulan dari bermain terbalik adalah lebih mudah mengikuti apa yang kita lihat dari pada apa yang kita dengar, begitu pula dengan anak akan cenderung mencontoh perbuatan dari pada perkataan orang tua, sehingga untuk menjadi orang tua yang lebih baik adalah sejalan antara perkataan dan perbuatan.
Langkah ke 3 pelatihan adalah meminta peserta PKH menyampaikan sifat atau hal baik dari peserta lainnya secara berpasangan. Hal ini untuk mengarahkan peserta PKH agar selalu berusaha untuk melihat hal baik yang ada dalam diri masing-masing peserta dan selalu berfikir positif terhadap diri sendiri karena pikiran positif akan mendorong untuk berperilaku dan bertutur kata dengan baik terhadap anak.
Langkah ke 4 dalam modul mengupas pengaruh sikap orang tua terhadap anak yang disuguhkan dalam bentuk film pendek berdurasi 1 menit 23 detik dengan menampilkan tokoh ibu Lili, Agus, dan Ita. Dengan sikap ibu Lili yang sibuk memikirkan ekonomi keluarga tanpa mempedulikan Agus dan tanpa sadar mendiamkannya. Sementara film ke dua menampilkan perubahan sikap ibu Lili. Disini peserta PKH diajak menjadi orang tua yang lebih baik dengan selalu bersikap, berperilaku dan bertutur kata dengan penuh kasih sayang tanpa kekerasan. Menjadi orang tua yang lebih baik tidak ditentukan oleh berapa banyak jumlah uang atau harta yang dimiliki. Meskipun kehidupan ekonomi sulit, kita tetap bisa menjadi orang tua yang lebih baik dengan belajar mengendalikan emosi.
Langkah ke 5 membahas mengenai melibatkan ayah dalam pengasuhan sehari-hari. Bahwa menjadi orangtua yang lebih baik adalah dengan saling bekerjasama, ayah dan ibu saling membantu dalam mengasuh anak. Karena keterlibatan ayah dalam pengasuhan sehari-hari secara khusus akan membantu anak meningkatkan kemampuan sosial dan prestasi akademik di sekolah. Sedangkan ibu memberikan dampak secara khusus dalam perkembangan kemampuan emosional anak.Langkah ke 6 untuk menjadi orang tua yang lebih baik adalah ayah dan ibu berdiskusi dan memutuskan bersama hal yang terkait dengan pengasuhan anak. Dengan suguhan film ke 3 berdurasi 1 menit 18 detik yang mengajarkan kerjasama dan diskusi antara ayah dan ibu sangat penting sebelum mengambil keputusan.
Langkah ke 7 mempelajari tentang menghindari konflik di hadapan anak melalui tayangan film dengan durasi 2 menit 48 detik. Langkah ke 7 diperdalam dengan cara menghindari konflik dihadapan anak dan cara menahan amarah dengan latihan senam wajah.
Langkah ke 8 adalah review kembali pelajaran penting yang telah dipelajari bersama-sama dengan bantuan flipchart dan panduan praktik menjadi orang tua yang lebih baik di rumah melalui buku pintar mengasuh anak di rumah.

Itulah delapan langkah menjadi orang tua yang lebih baik, dilaksanakan dalam satu kegiatan P2K2, dengan durasi waktu kurang lebih 2 jam tatap muka. Waktu yang disediakan memang dirasa kurang cukup untuk menyampaikan materi yang disertai Ice breaking. Tapi dengan terbatasnya waktu, pendamping dapat memanfaatkan dengan baik.
Itulah sedikit cuplikan kegiatan P2K2 semoga bermanfaat.

Read more

Wednesday, August 23, 2017

Pelaksanaan FDS


Bagi para pendamping PKH yang sudah mendapatkan materi tentang FDS wajib untuk mengimplementasikannya kepada para KPM. Tujuannya agar para KPM lebih cepat dalam mempraktikannya dirumah.

Pendamping juga membuat Rencana Tindak Lanjut selama 1 periode (1 tahun) pelaksanaan FDS yang tertuang pada lembar kerja pendamping.

Saat menyampaikan materi FDS, pendamping harus urut sesuai dengan modul yang sudah dibekali.

dibawah ini contoh tabel RTL yang harus dibuat

Nama Desa :
Kecamatan :
Kabupaten :
Jumlah KPM :
Jumlah Kelompok :


NO
Materi
Tanggal / minggu
Tanggal / minggu
Tanggal / minggu
Tanggal / minggu
Tanggal / minggu
Tanggal / minggu
Tanggal / minggu
Tanggal / minggu
1
Pengasuhan dan pendidikan Anak
15-08-2017
16-08-2017
17-08-2017
18-08-2017
19-08-2017
20-08-2017
21-08-2017
22-08-2017
2









3









4









5









6











Read more

Apa itu FDS PKH?

FDS (Family Development Session)
Apa itu FDS?
FDS merupakan suatu langkah terstruktur dan sistematis yang dilakukan oleh petugas pendamping PKH/sosial guna menciptkan masyarakat tentang pentingnya aspek-aspek kehidupan.

Saat ini pemerintah melalui program keluarga harapan sedang mengembangkan percepatan pembangunan sumber daya manusia untuk masyarakat dengan pendapatan dibawah standar, karena umumnya masyarakat dengan pendapatan rendah sangat rentan terhadap permasalahan hidup.

Sasaran FDS adalah untuk warga penerima manfaat agar dalam kehidupannya dapat tertata dengan baik dari segi pendidikan, peningkatkan perekonomian, serta pola hidup sehat dalam keluarganya. Penerima manfaat akan memperoleh materi FDS dari para pendamping PKH/sosial yang sebelumnya juga sudah mendapatkan pelatihan oleh Balai Diklat Kementerian Sosial. 

Ada berapa modul yang harus dipelajari? 
Pendamping sosial/PKH yang sudah mendapatkan pelatihan FDS wajib untuk melatih para KPM agar nantinya KPM dapat menerapkan atau mempraktikannya dirumah. 

Materi-materi yang harus dipelajari diantaranya:
1. Pengasuhan dan pendidikan anak
2. Pengelolaan Keuangan dan Memulai Usaha
3. Kesehatan dan Gizi
4. Perlindangan Anak
5. Bidang pelayanan penyandang disabilitas berat
6. Bidang peningkatan kesejahteraan lanjut usia
Read more

Sunday, August 20, 2017

Pengelolaan Keuangan dan Perencanaan Usaha


Sesi 5
Tentang Mengelola Keuangan Keluarga

Pada bagian pengelolaan keuangan peserta akan dibekali bagaimana mengatur keuangan dalam keluarga, sehingga keuangan keluarga dapat tertata dengan baik antara pemasukan dan pengeluaran, Selain itu dibagian ini juga membahas tentang tata cara memulai usaha untuk para peserta penerima manfaat.

Langkah 1: Pembukaan (10 menit)
Alat yang diperlukan: Poster pengelolaan keuangan, 4 spidol, 20 lembar kertas kosong.
Proses yang perlu dilakukan:
1.        Ucapkan selamat datang dan terima kasih.
2.        Tanya (singkat): apakah mereka mengalami masalah keuangan dimana pengeluaran keluarga seringkali lebih besar dari pendapatan. Jawaban umum adalah “ya.”
3.        Dengan memahami masalah keuangan tersebut, sampaikan tujuan dan manfaat kehadiran peserta hari ini dan dua sesi kedepannya. Idealnya, mereka hadir di ketiganya.
Misal: “Pertemuan hari ini dan dua pertemuan berikutnya (sebut nama bulannya) akan memberikan pengetahuan dan meningkatkan ke terampilan (Bapak dan) Ibu untuk mengelola pendapatan dan pengeluaran, serta mengembangkan usaha. Totalnya ada tiga kali
pertemuan, masing-masing dua jam, membahas tentang: mengelola keuangan, cermat meminjam dan menabung, serta memulai usaha. Informasi yang diberikan nanti akan sangat menarik dan bermanfaat, maka pastikan dapat hadir di ketiganya sampai selesai. ”
4.        Fokus hari ini (sesi pertama). Sampaikan: hari ini kita belajar cara mengelola keuangan keluarga, supaya mengerti bagaimana membuat pengeluaran seimbang dengan pendapatan.
5.        Poster. Ajak peserta bersama-sama melihat dan membaca poster yang dipasang.
6.        Permainan/ice-breaking. Ajak peserta berdiri melingkar dan sampaikan kita akan bermain “Menjadi Orang Jepang”. Minta peserta berhitung searah jarum jam dan mengingat angka yang disebutkan masing-masing. Peserta harus menjawab “Haik” sambil membungkukkan badan setiap kali Pendamping menyebut angkanya; dan jika Pendamping menyebut angka nol, maka seluruh peserta harus menjawab “Haik” sambil membungkukkan badan. Sebutkan beberapa angka, semakin lama semakin cepat, selama beberapa kali. Peserta yang salah harus keluar dari lingkaran.
Penyebutan angka juga dapat dilakukan sepanjang pelatihan untuk mengembalikan perhatian peserta ke pelajaran.
7.        Kelompok. Bagi peserta menjadi 4 kelompok. Pastikan jumlah peserta yang tidak bisa/sulit membaca, menulis dan menghitung tersebar rata di antara kelompok. Minta peserta duduk dalam kelompoknya hingga sesi selesai.
8.        Alat tulis. Beri 5 lembar kertas kosong dan 1 spidol ke tiap kelompok.
9.        Yel. Sampaikan: setiap kali Pendamping mengatakan “Uang tidak cukup?”, maka seluruh peserta harus menjawab “Ya diatur dong...” sambil menggerakkan salah satu anggota badan. Sepakati gerakan anggota badan tersebut bersama peserta.
Cobalah penggunaan yel tersebut sebelum memulai langkah 2, dan gunakan lagi saat peserta kurang semangat atau terlihat bosan.


Langkah 2: Memahami Jumlah Pendapatan dan Pengeluaran (40 menit)
Alat yang diperlukan: Film 1a, lembar cerita 1a, flip chart 1a, isolasi.
Proses yang perlu dilakukan:
1.        Film 1a. Sampaikan bahwa kita akan menonton sebuah film pendek. Putar Film 1a. Pastikan seluruh peserta dapat melihat dan mendengar dengan jelas. Jika film tidak dapat diputar, minta peserta membuka Buku Pintar halaman 46 dan bacakan cerita tersebut. Bisa juga ajak beberapa peserta untuk ikut berperan dalam pembacaan cerita.
2.        Diskusi Film 1a: masalah apa yang dihadapi oleh keluarga Ibu Lili?
Bimbing peserta untuk memahami pesan film:
keluarga Ibu Lili tidak tahu cara mengelola keuangan rumahtangganya sehingga sering kehabisan uang. Kaitkan dengan tujuan hari ini, misal: “Umumnya kita menghadapi masalah serupa dengan Ibu Lili, pendapatan tidak tentu jumlah dan waktunya padahal pengeluaran selalu ada setiap hari. Jadi, kita perlu belajar mengelola uang agar pendapatan sebulan bisa mencukupi kebutuhan bulanan keluarga.”
3.        Mari bantu Ibu Lili, langkah pertamanya adalah dengan menghitung pendapatan dan pengeluaran bulanan keluarga.
4.        Latihan. Buka Buku Pintar halaman 49, “Lembar Cerita 1a: Berapakah Pendapatan dan Pengeluaran Saya?” Secara bergiliran, minta wakil tiap kelompok untuk membacakan satu paragraf dari lembar cerita tersebut. Setiap satu paragraf selesai dibacakan, diskusikan langkah langkah untuk menjawab pertanyaan tersebut. Ingat, yang ditanya adalah jumlah per bulan!
5.        Beri 10 menit untuk kerja kelompok: satu kelompok mengerjakan satu soal (soal yang  Lembar Cerita 1a : Berapakah Pendapatan dan Pengeluaran Saya?
Catatan:
1 bulan = 30 hari ; 1 bulan = 4 minggu Peserta tidak perlu menjumlah total jenis
pendapatan/pengeluaran yang diketahui.
·           Ibu Lili bekerja sebagai buruh tani serabutan, sementara Pak Rusli, suaminya, bekerja
sebagai buruh bangunan. Pendapatan keluarga mereka saat ini adalah:
a.       Upah Ibu Lili Rp 15.000/hari, ia bekerja 3 hari dalam seminggu.
b.      Upah Pak Rusli Rp 30.000/hari, ia bekerja 4 hari dalam seminggu.
Berapakah pendapatan masing-masing dalam sebulan?
Jawaban:
a.Upah Ibu Lili = Rp 15.000 x 3 hari x 4 minggu = Rp 180.000
b.Upah Pak Rusli = Rp 30.000 x 4 hari x 4 minggu = Rp 480.000
·           Ibu Lili memiliki tiga orang anak: Dewi duduk di kelas 1 SMP, Agus duduk di kelas 2 SD, dan Ita umur 3 tahun dan belum sekolah. Dewi dan Agus bersekolah setiap hari Senin sampai Sabtu dengan berjalan kaki dan mereka selalu makan siang di rumah. Pengeluaran keluarga Ibu Lili untuk keperluan anak-anak adalah:

a. Uang jajan Dewi Rp 3.000/hari
b.Uang jajan Agus Rp 2.000/hari
c. Susu untuk Ita Rp 20.000/bulan
d.Tabungan Dewi di sekolah Rp 5.000/bulan
e.Hari ini Agus minta dibelikan tas sekolah baru seperti yang dimiliki temantemannya
seharga Rp 50.000, padahal tas sekolahnya sekarang masih bagus.
Berapakah pengeluaran keluarga Ibu Lili untuk keperluan anak-anak dalam
sebulan?
Jawaban:
a.Uang jajan Dewi = Rp 3.000 x 6 hari x 4 minggu = Rp 72.000
b.Uang jajan Agus = Rp 2.000 x 6 hari x 4 minggu = Rp 48.000
c. Susu Ita Rp 20.000
d.Tabungan Dewi Rp 5.000
e. Tas baru Agus Rp 50.000
·           Untuk keperluan rumah tangganya, pengeluaran keluarga Ibu Lili adalah:
a. Belanja sayur dan lauk pauk Rp 15.000/hari
b.Listrik Rp 20.000/bulan
c. Pulsa telpon untuk Pak Rusli Rp 20.000/bulan
d.Perlengkapan mandi keluarga serta sabun cuci Rp 25.000/bulan
e.Rokok Pak Rusli Rp 2.000/hari
Ibu Lili tidak perlu membeli beras karena mendapat kiriman dari mertuanya yang memiliki sawah. Berapakah pengeluaran keluarga Ibu Lili untuk keperluan rumah tangga
dalam sebulan?
Jawaban:
a.Belanja = Rp 15.000 x 30 hari = Rp 450.000
b.Listrik Rp 20.000
c. Pulsa telpon Rp 20.000
d.Perlengkapan mandi dan cuci Rp 25.000
e. Rokok = Rp 2.000 x 30 hari = Rp 60.000
·           Ibu Lili memiliki utang pada warung tetangganya sebesar Rp 200.000 yang harus dicicil selama 20 minggu. Ia juga mengikuti dua arisan. Untuk memenuhi kewajiban ini, Ibu Lili harus membayar:
a. Cicilan utang Rp 10.000/minggu
b. Arisan kelompok tani Rp 5.000/minggu
c. Arisan PKK Rp 10.000/bulan
Berapakah pengeluaran keluarga Ibu Lili untuk membayar utang dan arisan dalam sebulan?
Jawaban:
a.Bayar utang =Rp 10.000 x 4 minggu = Rp 40.000
b.Arisan kelompok tani = Rp 5.000 x 4 minggu = Rp 20.000
c. Arisan PKK Rp 10.000
6.        Tempel jawaban kelompok di dinding. Buka flip chart “FC 1a: Pendapatan dan Pengeluaran Rata-rata Per Bulan” dan ajak peserta bersama-sama mengecek apakah jawaban mereka sudah benar seperti yang tertulis pada flip chart.
7.        Sampaikan: total pengeluaran keluarga Ibu Lili ternyata jauh lebih besar dibandingkan pendapatannya.
8.      Tanyakan (singkat): apa yang bisa dilakukan Ibu Lili agar pendapatan keluarganya bisa mencukupi? Simak jawaban mereka kemudian simpulkan:

salah satu cara agar pendapatan bisa mencukupi adalah dengan mengatur dan mengurangi pengeluaran yang tidak mendesak.
Read more